Di Amerika, beberapa wanita mengeluhkan sakit kepala yang berkepanjangan. Dada mereka sering berdebar-debar, kulit memerah. Beberapa juga mengalami problem pencernaan. Belakangan, mereka menyebutnya sebagai toxin shock syndrome (TTS). Penyakit ini hanya menyerang wanita yang masih mengalami menstruasi.
Ciri-cirinya, demam tinggi, sakit kepala, kulit memerah seperti ruam, kerongkongan luka, muntah-muntah, diare sampai penurunan tekanan darah dengan cepat. beberapa orang juga mengalami problem hati, otot ngilu, dan kulit mengelupas. Dua tahun setelah itu, tepatnya 1980, baru diketahui penyebabnya; pembalut wanita jenis tampon. Penyerap darah haid ini, yang digembar-gemborkan sebagai berpenyerap super tersebut ternyata menimbulkan infeksi yang diikuti dengan luka dan trauma.
TSS timbul akibat aktifitas toksin yang diproduksi oleh bakteri taphylococcus. Penggunaan tampon yang dimasukkan ke dalam vagina dapat menimbulkan luka kecil yang bisa berakibat borok, dan membawa masuk bakteri tersebut ke dalam tubuh. Teori kedua menyatakan tampon terutama yang berukuran extra-large (XL) membawa banyak ruang udara. Ini memungkinkan bakteri itu cepat berkembang biak. Dan beruntung, tak ada pembalut wanita jenis tampon yang dijual di sini.
Dulu, sekitar tahun 1980-an memang pernah ada, tapi pasar kita ternyata menolak. ”Tampon riskan untuk gadis, apalagi kultur kita yang mengagungkan selaput dara,” ujar Ginekolog DR Boyke Dian Nugraha. Tapi jangan dulu bersorak. Pemakaian pembalut biasa, juga tidak menutup kemungkinan resiko masuknya bakteri itu ke dalam tubuh. Meski kasusnya jarang, tapi kemungkinan itu tetap ada. ”Daerah organ intim merupakan daerah yang sangat kondusif untuk tumbuh kembang bakteri,” ujarnya. Di daerah ini, kondisinya cenderung lembab. selain itu, darah sendiri merupakan media yang baik untuk memacu perkembangan kuman dan bakteri.
Menurutnya, efek pembalut biasa dan tampon terhadap organ intim memang berbeda. Jika tampon — yang dimasukkan ke dalam organ intim — menyerap semua cairan, maka tidak demikian dengan pembalut biasa. ”Pembalut biasa lebih ‘toleran’ karena tidak semua cairan terserap,” ujarnya.
Karenanya ia menyarankan untuk berhati-hari terhadap pembalut berdaya serap tinggi. ”karena dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan asam dan basa di daerah intim,” ujarnya. Saat ini, ada seruan dari Environmental Protection Agency (EPA) untuk mencermati pembalut yang digunakan. Umumnya, menurut laporan mereka, pembalut mengandung bahan rayon untuk absorbsi dan dioxin, bahan kimia yang digunakan dalam proses pemutihannya.
Umumnya, produk pembalut memang berwarna putih bersih. Semakin putih warna pembalut, semakin bagus. Dan Dioxin inilah yang digunakan sebagai ‘alat’ pemutihnya. bagi wanita, bahan ini sangat berbahaya. Dioxin merupakan salah satu bahan kimia yang potensial karsinogenik, alias dapat menimbulkan kanker. bahan ini juga potensial mematahkan sistem imunitas tubuh.
September lalu EPA juga mengingatkan mengenai efek ‘lambat tapi pasti’ dioxin dalam meracuni tubuh. Apalagi, zat itu ‘tersimpan’ di daerah kulit yang sensitif. Menurut Boyke, saat ini pilihan pembalut wanita semakin beragam. Kaum wanita hampir setiap hari dirayu oleh aneka produk pembalut melalui beragam iklan di berbagai media. Produsen tidak lagi malu mengiklankan produknya dengan imbuhan macam-macam: berdaya serap tinggi, anti bocor, lembut. Semuanya, terserah Anda.
Sebenarnya, asal rajin berganti pembalut setiap hari saat menstruasi, merek apapun yang dipilih tidak ada masalah. ”Jaman ibu kita dulu mereka hanya menggunakan kain handuk, dan tak ada masalah,” ujarnya. Pembalut wanita yang dipasarkan, katanya, ‘hanya’ menang dari segi kepraktisan saja. ”Fungsi, sih, sama saja,” tambahnya.
Seiring dengan semangat back to nature, di negara-negara maju sekarang kembali marak produk pembalut washable alias bisa dicuci. Pembalut ini berbahan dasar 100 persen katun. terdiri dari dua bagian, starter pack yang berfungsi untuk ‘memegang’ pembalut agar tidak bergeser dan berkerut serta trial pack yang akan menampung darah haid Anda. Trial pack ini terdiri dari tiga jenis, untuk pemakaian sehari-hari, pada saat terlalu ‘basah’, dan untuk pemakaian malam hari. Semuanya terbuat dari bahan flanel. Jika Anda malas mencucinya, bisa Anda buang begitu saja — tanpa resiko mncemaran lingkungan, karena 100 persen bahannya ramah lingkungan. Tapi jika Anda cuci lagi, maka bisa digunakan saat ‘tamu’ muncul lagi bulan depan. Persis seperti yang dilakukan jaman nenek kita dulu.
Di Amerika Serikat, produk ini lumayan laris. Di sini, kaum wanita meninggalkannya dan ramai-ramai beralih ke pembalut sekali pakai. Siapa yang lebih maju sebetulnya?
Sumber : Lovemoon Indonesia